Dr. Sutanti, dokter seorang hebat akupunktur pertama yang dimiliki Indonesia, mematung di
balik jendela sebuah rumah. Matanya nanar memandangi pekarangan tak seberapa
luas yang ada di seberang jalanan yang sepi. Hari itu tak banyak yang berlalu-lalang.
Syukurlah, batin Tanti, ini memudahkanku memandang lekat anak-anakku.
.......
Tanti sudah demikian usang tak bersua dengan tiga anak lelakinya. Ia juga sudah lama sekali tak pernah pulang ke rumahnya. Dari tempat- tempat persembunyian yang berpindah-pindah, ia mendengar sehembusan kabar tak menyenangkan: rumahnya di Jalan Pegangsaan (Cikini) sudah digerebek tentara. Isi rumah dikeluarkan.
Sebagian disita. Sebagiannya lagi dimusnahkan.
Nestapa memang sedang mengakrabi Tanti. Sejak 5 Oktober 1965, ia putus kontak dengan semua keluarga terdekatnya. Suami tercinta, Dipa Nusantara Aidit, entah bagaimana kabarnya. Dari sejumlah informasi yang ia sanggup di pengujung November 1965, sang suami telah dihukum di tempat Jawa Tengah. Mungkin di Boyolali atau Solo. Ada juga yang bilang di Tegal. Entahlah.
Tak begitu terang kapan Aidit menikahi Sutanti. Tapi, berdasar informasi yang didapat dari goresan pena Kohar Ibrahim, seorang eksil yang menetap di Brusell, Belgia, yang berjudul Aidit Pelita Nusantara? Sebuah Catatan dari Brusell yang dimuat di harian Batam Pos, Riau, diketahui bahwa keduanya menikah pada 1947. Leclerc menyebut perjumpaan perdana keduanya itu berlangsung saat Aidit sedang memperlihatkan ceramah tentang Marxisme. Ketika itu Aidit memang sedang menunaikan tugasnya sebagai anggota CC PKI yang membawahi bidang Agitprop.
Sutanti ialah anak dari pasangan penggerak pergerakan yang cukup radikal. Ayahnya bernama Mudigdio, seorang ningrat keturunan aristokrat Tuban. Mudigdio adalah seorang nakal keluarga. Ia memberontak perilaku kolot-konservatif keluarganya dan terutama perilaku keluarga besarnya yang sangat pro-Belanda. Setelah menyelesaikan HBS-nya, Mudigdio segera bekerja sebagai pegawai negeri di Kantor Pajak. Ketika bertugas di Medan, ia bertemu dengan Siti Aminah yang di kemudian hari menjadi istrinya. Ketika bertugas di Semarang pada 1927, Mudigdio msauk ke dalam PNI dan kemudian bergabung ke Partindo. Akibat aktivisme politik yang ditekuninya, ia
dipecat sebagai pegawai negeri sebagaimana dialami isemua pegawai pemerintahan Hindia-Belanda yang terlibat dalam kegiatan pergerakan nasional.
Menjelang penyerbuan Jepang, ia menjadi guru MULO Muhammadiyah di Yogyakarta.
Ketika ia kembali ke Semarang, Mudigdio bekerja untuk PUTERA, dan selanjutnya bekerja di Jawa Hokokai. Sesudah proklamasi, beliau masuk dinas kepolisian yang baru.
Pada 1948, Mudigdio menjadi anggota Partai Sosialis pimpinan Amir Syarifuddin yang lantas tergabung ke dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang terlibat dalam peristiwa Madiun Affair. Mudigdio tetap berpihak ke kubu Amir. Atas inisiatif sendiri, Mudigdio bahkan berusaha mendirikan Korps Polisi Merah di ddaaerah Pati. Pada 21 November 1948, beliau dan pembantu-pembantunya ditangkap dan ditembak mati.
Siti Aminah, janda Mudigdio, saat itu menjadi anggota KNIP mewakili Partai Sosialis.
Kematian suaminya justru membikin gairahnya untuk berpolitik makin menjompak-jompak.
Ia berkonsentrasi di bidang pergerakan perempuan, sehingga ia terpilih menjadi wakil ketua Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sambil tetap menjadi anggota DPR hingga kemudian ditahan dan diberhentikan sesuai pageblug 1965.
Tanti terang dekat dengan kegiatan politik. Pernikahannya dengan Aidit kian meneguhkan darah penggerak yang ia warisi dari kedua orangtuanya. Ia tahu benar resiko menjadi aktivis politik sekaligus menjadi istri pemimpin tertinggi PKI,. Partai komunis terbesar ketiga didunia.
Tapi insiden September 1965 betul-betul tak ia duga akan terjadi dengan begitu cepatnya.
Dalam nyaris satu tarikan nafas saja, Tanti harus berpisah dengan orang-orang yang dicintanya. Ia juga terpaksa berpisah dengan tiga anak lelakinya. Menjelang pelariannya, Tanti dan suaminya masih sempat mengirim Iwan, Ilham dan Irfan ke Bandung. Kabar terakhir, tiga anak lelakinya itu dipelihara oleh Moeliono, salah seorang kerabat jauh Tanti yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Kristen Parahyangan Bandung. Kabar itu sedikit melegakan Tanti.
Tapi kesedihan tentu saja tak berkurang. Luar biasa sedihnya Tanti membayangkan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil itu harus m enanggung bala akhir pertarungan politik yang melibatkan ayahnya. Apalagi Ilham dan Irfan. Keduanya lahir di sebuah negeri yang jauh, Rusia, tepatnya di Moskow, pada 18 Mei 1959. Enam bulan kemudian barulah si kembar Ilham-Irfan mencicipi teriknya matahar i Indonesia. Jadi, ketika pecah pageblug 1965, si kembar itu gres berusia enam tahun. Masih sangat kecil untuk mengerti pergulatan politik. Mereka tidak tahu apa-apa.
Di puncak rasa kangen yang tak mungkin lagi dibendungnya, Tanti berhasil mengontak keluarga Moeliono, karabat yang selama ini memelihara tiga anak lelakinya. Dia sampaikan betapa kangen dan berharap sangat sanggup bersua dengan anak-anaknya.
Tanti tentu saja sedang tak berniat pergi ke Bandung, dan menyambangi kediaman keluarga Moeliono untuk sanggup memeluk tiga anak lelakinya. Itu planning bunuh diri namanya. Itu sama saja menyerahkan diri untuk ditangkap dan dihukum tentara. Tanti sepenuhnya insyaf akan situasi. Dan Tanti memang tak pernah bermimpi sanggup memeluk tiga anaknya.
Sekadarmemandang lekat-lekat belum dewasa dari kejauhan pun rasanya sudah nikmat,pikir Tanti.
Maka disusunlah rencana. Moeliono akan membawa tiga anak lelaki Tanti ke suatu tempat.
Di sekitar situ, Tanti sudah menunggu dalam jarak yang cukup jauh yang masih memungkinkannya menatap lekat sepuasnya anak-anaknya tanpa harus diketahui orang lain, bahkan juga oleh tiga anak lelakinya itu.
Tanti masih duduk mematung. Matanya memandang pekarangan tak seberapa luas yang dijanjikan menjadi tempat bermain tiga anaknya hari itu. Waktu serasa tak berhenti. Menit menyerupai enggan beranjak. Tanti masih menanti.
Dan ketiga anak kecil yang dirindukannya itu pun akibatnya datang. Mata Tanti nyalang memandang ke depan. Air mata akibatnya tumpah.
Detik itu juga Tanti mendadak ingat dua anak perempuannya yang sedang berguru di
Moskow. Ibaruri dan Ilya. Apa kabar mereka?
Rasa kangen lagi-lagi membuncah. Air mata lagi-lagi tumpah.
(Bersambung "kabar kematian")
Sumber : Kitab Merah
NOTE: You are welcome to share my poetry with others – please credit “dithelen” with a link to my website. Thanks!
